Hidup Ini Sementara: Kejujuran dan Keluarga yang Berharga

Hidup Ini Sementara: Kejujuran dan Keluarga yang Berharga

Di tengah kebutuhan keluarga yang belum terpenuhi, Arman menerima tawaran uang dengan syarat memalsukan catatan pekerjaan. Keputusannya pada sore itu menjadi pelajaran bagi sang anak tentang kejujuran, tanggung jawab, dan arti pulang dengan hati yang tenang.

Arman hampir sampai di teras ketika seorang lelaki menyusulnya. Tas kerja masih menggantung di bahunya. Di depan rumah, Raka sudah menunggu sambil memainkan ujung kausnya.

“Ayah pulang!”

Anak itu mendekat. Arman mengusap rambutnya, lalu menoleh kepada lelaki yang baru datang.

Sebuah amplop cokelat disodorkan kepadanya. Bagian atasnya terbuka, memperlihatkan beberapa lembar uang.

“Untuk bantu-bantu kebutuhan rumah, Pak,” kata lelaki itu pelan. “Besok tanda tangani saja jumlah lengkapnya. Barang yang kurang nanti saya kirim.”

Arman langsung memahami maksudnya.

Siang tadi, ia menemukan selisih antara jumlah barang yang tiba di gudang dan angka pada surat penerimaan. Ia meminta catatan itu diperbaiki sesuai barang yang benar-benar datang. Rupanya, urusan tersebut mengikutinya sampai ke rumah.

Ia memandangi amplop itu beberapa detik.

Pagi tadi, istrinya memperlihatkan sol sepatu Raka yang mulai terlepas. Ada pula tagihan listrik yang harus dibayar pekan ini. Gajinya masih beberapa hari lagi, sementara uang belanja perlu dihitung dengan cermat.

Ia membayangkan beberapa kebutuhan itu bisa selesai sore ini.

“Ayah, itu apa?”

Suara Raka membuat Arman menunduk. Anak itu berdiri begitu dekat hingga lengannya menyentuh tas kerja sang ayah.

Arman kembali menatap lelaki di depannya. Ia mengangkat telapak tangan, lalu menggeleng perlahan.

“Maaf, Pak. Catatannya tetap sesuai barang yang sudah diterima. Kalau sisanya datang, saya bantu periksa.”

Lelaki itu masih menahan amplopnya.

“Sedikit saja, Pak.”

Arman menarik napas.

“Terima kasih. Saya tetap dengan keputusan tadi.”

Setelah beberapa saat, amplop itu dimasukkan kembali ke dalam saku. Lelaki tersebut berpamitan dan berjalan menuju ujung gang.

Arman merangkul bahu Raka. Dari teras, istrinya memperhatikan mereka. Secangkir teh sudah diletakkan di atas meja, bersebelahan dengan sepiring gorengan. Anak perempuan mereka duduk di dekat ibunya, sibuk membagi camilan ke piring kecil.

“Kenapa uangnya nggak diambil, Yah?” tanya Raka.

Arman duduk dan meletakkan tasnya di bawah kursi. Ia mencari kata-kata yang mudah dimengerti anaknya.

“Tadi Ayah diminta menulis bahwa semua barang sudah datang. Padahal masih ada yang kurang.”

“Terus?”

“Kalau Ayah menerima uang itu dan menandatangani catatannya, orang yang membaca akan percaya semuanya sudah lengkap.”

Raka terdiam.

“Seperti bilang PR sudah selesai, padahal belum?”

Arman tersenyum kecil.

“Iya, kurang lebih begitu.”

Raka mengangguk, kemudian mengambil satu gorengan. Percakapan itu tampaknya selesai baginya. Namun, pertanyaannya tinggal lebih lama di kepala Arman.

Selama ini, ia sering menyuruh Raka berkata jujur. Sore tadi, anaknya melihat sendiri betapa sulitnya menjalankan nasihat tersebut ketika ada sesuatu yang sangat dibutuhkan di depan mata.

Setelah kedua anak mereka masuk ke rumah, Arman menceritakan kejadian itu kepada istrinya.

“Padahal kita sedang perlu,” katanya.

Istrinya mengangguk. Ia pun sudah menghitung uang yang tersisa di dompet.

“Iya. Aku tadi juga sempat memikirkan sepatu Raka.”

Mereka diam sebentar. Dari dalam rumah terdengar kedua anak mereka berebut pensil warna.

“Besok kita cari tempat memperbaiki sepatunya dulu,” lanjut istrinya. “Soal belanja, nanti kita hitung bersama.”

Arman mengangguk. Mereka mengambil buku kecil tempat mencatat pengeluaran. Ada beberapa pembelian yang bisa ditunda. Tagihan listrik tetap menjadi prioritas. Untuk kebutuhan berikutnya, Arman akan menanyakan kemungkinan mengambil giliran kerja tambahan.

Persoalan mereka masih perlu diselesaikan. Malam itu, mereka mulai mengerjakannya satu per satu.

Langit di ujung gang perlahan gelap. Arman membawa gelasnya ke dalam rumah. Raka memanggil dari lantai ruang tengah, meminta ayahnya membantu menggambar sebuah rumah.

“Jendelanya dua, Yah. Biar terang.”

Arman duduk di sebelahnya. Ia menggambar dua jendela, lalu sebuah pintu.

Barangkali bertahun-tahun kemudian Raka akan lupa warna langit sore itu, atau siapa lelaki yang datang membawa amplop. Namun, ada kesempatan baginya untuk mengingat tangan ayahnya yang terangkat dan penjelasan sederhana setelahnya.

Hidup ini sementara. Waktu bersama keluarga terus berjalan di antara pekerjaan, tagihan, percakapan singkat, dan makan malam. Di sela kesibukan itulah anak-anak mengenal nilai yang kita pegang melalui tindakan sehari-hari.

Arman masih ingin membeli sepatu baru untuk anaknya. Ia ingin rumah yang lebih nyaman dan tabungan yang cukup. Sore itu, ia memilih terus mengusahakan semuanya dengan cara yang bisa ia ceritakan kepada keluarganya tanpa menyembunyikan apa pun.

BAGIKAN

Bagikan artikel

WhatsApp Facebook X